“Kling.. kling.” Suara lonceng berbunyi diikuti ketepak sepatu heels terdengar masuk membuka pintu dari luar. Suara tawa segerombolan pemuda yang ada di dalam kedai saling beradu tangan tanda tos, seakan misi mereka berhasil. Kuhitung ada lima orang. Pandanganku lekas memutari seluruh isi kedai, bahkan sampai ke sudut-sudutnya. Beberapa pelanggan ikut tertawa. Tak jarang hanya menengok sebentar, menggeleng kepala kemudian sibuk melanjutkan makan, maupun mengobrol dengan temannya sebelum pesanan datang. Yah, barusan itu ada seorang laki-laki didandani menyerupai wanita. Dia mengenakan dress seksi berwana merah muda, heels berwana merah darah, wig berambut lurus panjang, dan make up yang tebal. Bukan cantik, bahkan lebih tepat seperti penampakan hantu di senja hari. Dia hanya masuk sebentar, kemudian keluar dari kedai menabrak pintu yang terbuat dari bahan kaca setelah mendapat sambutan tawa. Aku menggelengkan kepala sambil mengambil piring dan gelas bekas pelanggan sebelum...
“Aku seneng banget kamu bisa mengagumiku. Aku menyerahkan semua pada Allah. Apa kamu juga?” Sebuah pesan yang terbaca dari ponselku. Ditulis oleh seseorang yang kukenal hampir satu tahun belakangan ini. Seseorang yang bahkan tidak pernah lagi aku bertemu dengannya. Dia yang populer, rasanya tak pantas jika seorang perempuan sepertiku berada bersamanya. *** Langkahku terayun menuju sebuah ballroom hotel. Mengenakan gaun cantik dan handbag kutenteng elegan di tangan. Tak berpikir darimana aku mendapatkannya, acara apa yang sedang kuhadiri. Langkah demi langkah terayun. Seseorang menggenggam tanganku. “Aku kembali kesini. Kali ini bukan untuk menghadiri acara yang diadakan oleh organisasi yang kamu ikuti. Ini hanya karena aku ingin bertemu denganmu.” Pemuda itu menggenggam lebih erat. Tak ada reaksi apapun dariku, selain diam. Aku jadi teringat beberapa bulan yang lalu saat dia datang ke kampusku sebagai pes...