Langsung ke konten utama

MELEPAS (cerpen)


            “Aku seneng banget kamu bisa mengagumiku. Aku menyerahkan semua pada Allah. Apa kamu juga?”
Sebuah pesan yang terbaca dari ponselku. Ditulis oleh seseorang yang kukenal hampir satu tahun belakangan ini. Seseorang yang bahkan tidak pernah lagi aku bertemu dengannya. Dia yang populer, rasanya tak pantas jika seorang perempuan sepertiku berada bersamanya.
***
Langkahku terayun menuju sebuah ballroom hotel. Mengenakan gaun cantik dan handbag kutenteng elegan di tangan. Tak berpikir darimana aku mendapatkannya, acara apa yang sedang kuhadiri. Langkah demi langkah terayun. Seseorang menggenggam tanganku.
“Aku kembali kesini. Kali ini bukan untuk menghadiri acara yang diadakan oleh organisasi yang kamu ikuti. Ini hanya karena aku ingin bertemu denganmu.” Pemuda itu menggenggam lebih erat. Tak ada reaksi apapun dariku, selain diam.
Aku jadi teringat beberapa bulan yang lalu saat dia datang ke kampusku sebagai peserta acara.
“Jasmin? Nama yang bagus. Bunga melatikah arti namamu?” Suara ramah seorang peserta kongres memecah keteganganku setelah sesama panitia menanyakan rundown acara untuk beberapa jam ke depan. Mahasiswa yang satu ini bisa merayu juga setelah kupikir pendiam. Aku berlalu, melangkah cepat menuju ruang sekretariat.
“Kau dengar tadi, Sona? Si tampan itu memuji namaku.”
Jasmin segera menyusulku sambil membawa sebuah kartu nama bertuliskan  namanya. PANDU TULUS SETYA dengan jabatan wakil presiden mahasiswa di salah satu kampus Universitas Negeri di Ibu Kota. Aku mengerngitkan dahi.
“Kamu harus ingat. Malam ini acara terakhir. Besok subuh-subuh mereka akan langsung pulang ke asalnya masing-masing.”  Aku menepuk bahunya dengan gumpalan kertas rundown acara, penuh perasaan gemas.
“Nanti pilihkan aku yang sekelopok dengannya. Pas main ular tangga atau apa itu permainan yang kalian sembahkan. Sebelahkan aku sama dia.”
“Jangan mimpi ya? Lihat, tidak hanya kamu yang dia beri kartu nama.” Balasku dengan memasang wajah senyum tanda mengejek memincingkan mata ke ruang aula tempatnya membagikan kartu nama.
“Hahahaha.” Tawa Jasmin mengembang, terhenti ketika sudah sibuk memeriksa layar laptop di meja.
Aku hafal betul Jasmin. Setiap ada seseorang yang sedap dipandang mata dan menarik hatinya, dia tidak enggan untuk memuji di khayalak ramai. Namun di hatinya, aku tahu dia tidak memiliki perasaan apapun, seperti jatuh cinta atau merah jambu semacamnya. Sebenarnya tidak hanya pemuda bernama Pandu yang membagikan kartu nama. Hampir seluruh peserta maupun panitia bertukar identitas, saling mengenal. Mungkin karena ketepatannya di setiap berargumen, tiba-tiba dia menjadi sorotan dan populer di acara kongres.
Waktu pada hari itu cepat sekali berjalan. Tiba-tiba saja sudah malam dan acara perpisahan dimulai.
“Sona, semangat ya. Acara penutupan malam ini semoga lancar dan menyenangkan.”
“Iya, Kak.”
Sebenarnya tidak ada masalah apa-apa antara aku dengan Kak Wawan, presiden Badan Eksekutif Mahasiswa di kampusku periode tahun ini. Canggung memang aku rasakan ketika bertegur sapa, entah dia. Bukan karena saling suka, tapi karena gosip yang menyebar. Tentang kami, selalu menjadi pembicaraan menarik di organisasi ini. Meski tidak selalu benar, hembusan kabar tetap saja berpengaruh sedikit banyak di hidup kita.
Akhirnya aku dan penanggungjawab acara perpisahan yang lain lega setelah acara malam itu berjalan maksimal. Penuh tawa, bisa sharing lebih dekat dengan para perwakilan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Acara yang kita bisa melewati banyak hal dengan santai. Setelah tiga hari membahas peran mahasiswa dalam undang-undang gaji upah minimum pegawai yang sangat ramai mulai awal tahun ini.
Aku tersenyum lega menatap api unggun yang kami buat ramai-ramai untuk menghangatkan dinginnya malam. Lagi-lagi yang paling tidak aku suka, semua orang seakan menjodohkanku dengan Kak Wawan di setiap kesempatan. Padahal kami hanya teman.
“Sekian banyak panitia, aku belum mengenalmu. Namamu Sona kan?” Tangan seseorang yang kutahu bernama Pandu menyodorkan kartu nama.
“Oh. Akhirnya aku dapat.” Kami saling tersenyum. Senyumnya itu, aku tidak pernah menyangkal bahwa selain pandai, dia begitu tampan. Kutatap kartu nama pemberiannya, sehingga bisa membacanya lebih jelas. Disana tertulis nomor ponsel dan alamat beberapa akun media sosial miliknya. Ada kebanggaan di hati, dia mengetahui jelas namaku.
“Dok dok dok.” Suara ketukan pintu terdengar menggedor telinga. Aku terbangun dari tidur siangku yang lelap. Genggaman tangan dari Pandu menguap. Itu bukan kenyataan, itu mimpi di siang bolong. Rasanya aku tidak ingin berharap lagi seperti dua bulan lalu.
“Kenapa tidak masuk kelas sore ini? Haa?”
Bahkan sebelum aku beranjak dari tempat tidur, seseorang itu berhasil membuka pintu kamarku dengan lebar. Teriakannya lebih kencang dari suara tangannya ketika mengetok pintu. Aku sangat kenal suara itu.
 “Kamu nangis? Kenapa? Karena gagal naik kereta menuju Ibu Kota?”
Aku terdiam, tidak ingin menjawab pertanyaannya.
“Aku tahu alasanmu mengikuti lomba ini. Karena acaranya di Ibu Kota kan? Karena ada Pandu? Tak usah lagi berbohong. Aku tahu dengan baik dirimu.”
Aku menunduk. Malu dengan Jasmin, teman seperjuanganku. Utamanya dengan semua mimpi dan komitmenku di awal kuliah, saat mataku membaca penerimaan mahasiswa baru jalur beasiswa.
“Kamu bahkan putus asa dan meninggalkan mata kuliah yang selama ini kamu sukai.” Ketusnya sambil memberi sebuah kertas tes mid semesterku yang bernilai 95. Aku tidak tertarik melihat nilai itu lebih lama. Mataku berpaling, terpaku menatap sebuah proposal lomba di meja, dengan itu seharusnya bisa membawaku ke Ibu Kota.
***
Dua bulan sebelum ini.
Gerimis menyiram lembut bumi tempatku berpijak, menyuburkan perasaan yang tumbuh sejak kongres itu berakhir sekitar setengah tahun lalu. Setiap kesempatan aku mengecek ponsel, jangan-jangan Pandu menghubungiku. Mungkin mustahil, kami yang hanya bercakap singkat di depan api unggun pada detik-detik terakhir penutupan acara kini akrab melalui percakapan di media sosial. Menceritakan tentang diri masing-masing, saling melempar pujian, hingga aku lupa jika setahunan ini memutuskan berhijrah. ‘Tapi, aku tidak pacaran kok, kita hanya saling mengenal.’ Pembelaanku dalam hati.
Hari itu, berkali-kali aku menunggu dihubungi. Dia sedang berada di kotaku. Acara di Universitas sebelah seharusnya sudah selesai dan dia bisa naik taksi untuk datang menemuiku. Hingga magrib menjelang baru ada kabar, itupun permintaan maafnya karena tidak bisa memenuhi janji. Jujur, aku kecewa. Bukan hanya karena dia gagal menemuiku, mungkin masih ada kesempatan ke depan. Tapi dia lupa mengucapkan selamat di hari ke dua puluh tahun kelahiranku.
“Assalamualaikum, Sona. Selamat ulang tahun. Maaf baru mengucapkan. Ini sengaja ngucapin di akhir hari. Semoga aku menjadi yang terakhir di hidupmu juga.”
Pesan dari Pandu yang baru sempat kubaca waktu subuh. Dikirim tepat pukul 23.55. Ah, aku merasa goyah. Komitmenku untuk tidak menjalani hubungan rumit sebentar lagi, bahkan sejak itu sudah hancur. Apalagi baru kemarin melihat poster lomba proposal kewirausahaan di mading fakultas. Aku berencana mengikutinya, berharap bisa diundang presentasi di Ibu Kota.
Hubunganku dan Pandu semakin dekat sejak itu. Pagi hingga menjelang tidur, bangun tidur berlanjut lagi. Sepertinya hatiku benar-benar mengembang, kesulitan dalam rutinitas perkuliahan maupun organisasi yang aku ikuti dapat terselesaikan dengan berbesar hati. Aku bersemangat dan merasa paling bahagia, semua itu mengerucut pada proposal kewirausahaan yang aku garap. Jasmin dan seorang adik kelas bernama Sopyan kugandeng menjadi anggota.
“Kamu yakin, pemuda kota yang tampan dan keren itu jatuh hati padamu?”
Suara Jasmin melembut, tapi cukup menusuk hati. Ucapannya membuatku harus merasa rendah jika dihadapkan dengan Pandu. Dia memang tidak bilang apa-apa, tapi bukankah semua berawal di hari ulang tahunku? Berucap ingin menjadi terakhir dalam hidupku.
“Aku hanya berharap bisa bertemu dengannya sekali saja. Setelah dia gagal menemuiku dua bulan lalu.” Jawabku lesu.
“Jangan banyak berharap. Perempuan cantik dan berbakat bukan cuma kamu saja. Kamu bisa bayangkan kan? Orang-orang seperti apa yang mengelilingi kesehariannya.”
Aku terdiam. Suasana hening beberapa waktu, hingga ponselku tiba-tiba bergetar memecah kesunyian.
1 pesan diterima.
“Aku mencarimu di setiap bus. Baru saja kulihat namamu ada dalam daftar peserta yang diundang presentasi hari ini. Kamu nggak bilang kalau ikut, juga tidak datang. Kenapa? Apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja kan?”
Tubuhku bergetar. Mata Jasmin membesar menatapku, berharap aku mengucapkan sesuatu setelah membaca pesan. Kubalas pesan darinya.
Hehe. Kapan aku bisa kesana, akan kuserahkan pada Allah,  Pandu. Saat ini ternyata belum bisa.”
 “Semangat ya, Sona. Kamu masih muda. Dipundakmu tertumpuk harapan bukan untuk cita-citamu sendiri. Ada orang tuamu, negaramu, bahkan agamamu juga menginginkan kamu tidak hanya beriman, tapi terus maju, berkembang, dan sukses. Hal yang belum pasti, jangan banyak menguras tenaga dan pikiranmu. Oke?”
Sebelumnya, aku berharap pesanku saat bilang mengagumi dan menyukainya dibalas dengan “Iya. Ayo kita jalani.” Namun aku sadar, bahkan tertampar keras saat dia terus membawa nama Tuhan.
Kegagalan keberangkatanku kemarin sore di stasiun. Pertama, karena menunggu Jasmin selesai kuliah, pergi ke kosnya untuk berkemas padahal kubilang berkemaslah malam sebelumnya. Kedua, harus kembali ke kontrakan mengambil tiket kereta yang sudah kubeli. Ketiga, motor milik Sopyan mogok di tengah jalan, bannya tertusuk paku besar. Marahku dan semua tangisku dari jam seharusnya aku naik kereta menuju Ibu Kota sampai aku tertidur siang ini. Tiba-tiba aku bersyukur atas itu semua.
Tidak ada yang tahu. Aku, dia, atau orang lain tidak ada yang bisa memastikan. Entah di masa depan Pandu akan bersamaku atau bahkan bersama wanita lain, yang lebih dari aku. Bukankah semua itu atas kehendakNya, meski aku dengan bantuan orang lain mengusahakannya dengan keras, jika Allah tak ridho tidak akan berhasil.
“Iya, kamu benar. Terimakasih sudah mengingatkanku, Pandu.”
Ikhlas dan sabarlah. Kita hanya bisa tahu mana yang disukai, sedangkan Allah menakdirkan yang terbaik.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Chapter 1 (Melepas Matahari)

“Kling.. kling.” Suara lonceng berbunyi diikuti ketepak sepatu heels terdengar masuk membuka pintu dari luar. Suara tawa segerombolan pemuda yang ada di dalam kedai saling beradu tangan tanda tos, seakan misi mereka berhasil. Kuhitung ada lima orang. Pandanganku lekas memutari seluruh isi kedai, bahkan sampai ke sudut-sudutnya. Beberapa pelanggan ikut tertawa. Tak jarang hanya menengok sebentar, menggeleng kepala kemudian sibuk melanjutkan makan, maupun mengobrol dengan temannya sebelum pesanan datang. Yah, barusan itu ada seorang laki-laki didandani menyerupai wanita. Dia mengenakan dress seksi berwana merah muda, heels berwana merah darah, wig berambut lurus panjang, dan make up yang tebal. Bukan cantik, bahkan lebih tepat seperti penampakan hantu di senja hari. Dia hanya masuk sebentar, kemudian keluar dari kedai menabrak pintu yang terbuat dari bahan kaca setelah mendapat sambutan tawa. Aku menggelengkan kepala sambil mengambil piring dan gelas bekas pelanggan sebelum...

Ukuwah Islamiyah

Sore ini aku membuka buku catatan yang dahulu selalu kubawa setiap mengikuti majelis ta'lim. Betapa indahnya rangkaian kata dalam catatan itu seakan menerangi kembali hati ini. Bagai kondisi gelap kemudian lilin dinyalakan, seperti itulah ketika membukanya. Bukan karena tulisan tanganku yang bagus, bahkan jika dilihat mungkin hanya dapat dibaca oleh penulisnya saja.hehe Cahaya itu menyinari kembali, mengingatkan lagi. Karena begitulah ilmu, ketika sudah jarang dipelajari maka akan terlupakan. Dan tulisan dalam buku itu adalah pengingat dalam keluapaan ini. Kali ini saya ingin menuliskan sebuah bahasan yang kutemukan dalam bukuku, tepat tanggal 26 mei 2010 ketika kumencatatnya. semoga dapat bermanfaat. Sebelumnya, sebagai manusia kita benar-benar merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan senantiasa membutuhkan orang lain. Maka hendaklah saling menjaga dan menghargai haq sesama makhluk sehingga tidak adanya perilaku dzalim ataupun saling menyakiti. Dan dicatat...