“Kling.. kling.”
Suara lonceng berbunyi diikuti
ketepak sepatu heels terdengar masuk
membuka pintu dari luar. Suara tawa segerombolan pemuda yang ada di dalam kedai
saling beradu tangan tanda tos, seakan misi mereka berhasil. Kuhitung ada lima
orang. Pandanganku lekas memutari seluruh isi kedai, bahkan sampai ke sudut-sudutnya.
Beberapa pelanggan ikut tertawa. Tak jarang hanya menengok sebentar, menggeleng
kepala kemudian sibuk melanjutkan makan, maupun mengobrol dengan temannya
sebelum pesanan datang.
Yah, barusan itu ada seorang laki-laki
didandani menyerupai wanita. Dia mengenakan dress
seksi berwana merah muda, heels berwana
merah darah, wig berambut lurus panjang, dan make up yang tebal. Bukan cantik, bahkan
lebih tepat seperti penampakan hantu di senja hari. Dia hanya masuk sebentar,
kemudian keluar dari kedai menabrak pintu yang terbuat dari bahan kaca setelah
mendapat sambutan tawa.
Aku menggelengkan kepala
sambil mengambil piring dan gelas bekas pelanggan sebelumnya, kemudian mengelap
meja agar bisa ditempati pelanggan baru.
“Kling.. Kling..”
Suara lonceng berbunyi kembali
dan beberapa suara langkah sepatu terdengar dari luar kedai.
“Selamat datang di Kedai Yummy.”
Sapaku sambil menundukkan
pandangan ke pelanggan yang datang.
Kulihat segerombolan pemuda
tadi juga melangkah keluar dari kedai. Membuat lonceng di tengah pintu
berkali-kali berbunyi.
Setelah menaruh gelas dan
piring didapur, aku menuju pintu. Keadaannya sedikit kotor karena adegan wanita
jadi-jadian tadi menabrak dan mengotori pintu kaca kami dengan make up yang
dikenakannya. Dari pintu kaca yang kubersihkan terlihat segerombolan pemuda
tadi menghampiri laki-laki yang didandani beserta temannya yang lain sedang bersamanya
dan mereka tertawa riang. Beberapa waktu kemudian kue berlilin muncul dari
dalam mobil dibawakan oleh dua perempuan berseragam OSIS sekolah menengah atas
dengan beberapa balon berwarna hitam dan putih. Aku tersenyum tipis. Ikut
merasakan kentalnya persahabatan mereka.
Alarm azan magrib terdengar berkumandang
dari ponsel. Segera aku mengambilnya di saku celana dan mematikannya.
Langkahku berjalan ke dapur,
mengembangkan senyum kepada setiap pelanggan yang datang. Melihat-lihat
ekspresi mereka yang duduk bersama pasangannya, ataupun sekedar dengan para
sahabatnya.
Belakangan ini langit sering
memasang wajah sendu. Bahkan hari ini, beberapa kali cahaya kilat terlihat dari
pintu kaca yang tadi kubersihkan. Musim penghujan membuat kedai ini semakin
ramai. Tidak tahu apakah karena para pekerja pabrik sebelah tidak ada pilihan
lain untuk makan, atau musim hujan cocok jika makan seafood. Apalagi gulai
kepala ikan yang uapnya masih berlarian. Membayangkannya saja membuatku ingin
memakannya.
“Kau ingin buka puasa pakai
apa?”
Suara seseorang terdengar
setelah aku sampai dapur.
“Aku bawa bekal.”
Jawabku sambil menlepas
celemek berwarna hitam – baju dinas kami di kedai.
Lekas tanganku membuka tas dan
mengambil kotak makan yang dibawakan orang rumah. Tak sabarnya aku, langsung
kubuka kotak makan berwarna kuning itu. Nasi goreng dengan telur yang dilebur
bersamaan saat proses memasaknya. Ada saus berbentuk senyum dengan hiasan tomat
dan beberapa sayuran timun, tomat, juga selada. Makanan yang dibuat dengan
kasih sayang. Rasa pedasnya pasti pas. Dia tahu aku tak begitu suka masakan
pedas.
“Hanya bentuk senyum?” Ledek
Roy sambil menyelidik isi dalam tepak makan dari belakang punggungku.
Dia adalah seorang koki pondok
makan tempatku bekerja. Entah kenapa, setiap koki yang aku kenal memiliki tubuh
yang gemuk. Bedanya kalau Roy ini memiliki kulit bersih dan bertubuh tinggi.
Parasnya lumayan dan masih jomblo. Aku suka mengerjainya. Kubilang jangan
terlalu banyak makan masakan sendiri agar tidak obesitas. Dia tidak marah. Dia
tahu karakterku.
“Besok lagi. Akan kusuruh dia
membuat bentuk love!”
Aku berjalan ke bangku panjang
pojok dapur. Senyumku masih mengembang sebelum benar-benar duduk. Kusantap
hidangan buka puasa hari ini dengan lahap. Saat suapan terakhir, salah satu
teman kerjaku mendekati telinga dan berbisik. Aku menahan rasa terkejut dengan
apa yang dia katakan. Aku langsung ke washtafle.
Mencuci tepak makan.
“Kau tak dengar? Ada yang
mencari kau di luar sana.” Ucap Roy sambil mengangkat beberapa kali wajan yang
dibawa tangannya, hingga api dari kompor yang melahap wajan mati.
“Aku tahu. Aku mau shalat
dulu. Suruh saja dia masuk.” Ucapku tanpa menoleh.
“Okelah.” Balasnya sambil
menempatkan masakan pada sebuah piring.
“Habis ini, kamu yang shalat,
Roy.”
“Oke. Pak Ustadz.”
Sekarang giliran dia yang
mengerjaiku.
“Aamiin.” Balasku.
***
Gadis berpostur ramping,
kulitnya putih, rambut aslinya lurus, namun kali ini dibuat keriting
menggantung di bagian bawah. Dress
selutut berlengan pendek berwarna merah muda, dengan handbag hitam dan highheels yang
berwarna krem. Hidung mancung, bibir tipis, dan mata yang berbinar. Semua
ditata dengan riasan yang natural. Para karyawan dan orang yang lalu lalang
keluar masuk kedai Yummy memandanginya takjub.
Dia tersenyum melihatku
berjalan menghampirinya. Gigi rapi yang ditampakkannya tambah membuatnya
semakin cantik. Dia begitu keras kepala. Tidak mau masuk kalau tidak dijemput.
Mendung membawa angin bertiup
lumayan kencang. Aku melepas jaket hodyku. Sampai di depannya, kukalungkan ke
tubuhnya.
“Bram.”
“Masuk dulu ya?” Potongku. Dia
mengangguk.
Aku berjalan duluan, dia
mengikuti di belakang. Kami menuju bangku kosong di pinggir jendela kaca.
“Bram. Untuk pertama kalinya
aku akan mengatakan ini pada seseorang.” Ucapnya sambil menyatukan kedua
jemarinya di atas meja. Terkesan gugup.
Dia memang sepertinya sudah tidak
sabar. Masih beberapa detik aku mempersilahkannya duduk di, tapi raut wajahnya
sudah menggebu.
“Tidak usah tergesa-gesa. Kamu
ingin minum apa? Jahe susu? Biar hangat.”
Kuberi tawaran setelah kami
berdua benar-benar sudah duduk.
“Tidak.” Balasnya singkat
melepaskan pertalian antar jemarinya dan berganti membetulkan bentuk roknya, seakan
tidak nyaman ketika duduk.
“Kamu tahu? Untuk pertama
kalinya ada gadis cantik menemuiku di tempat kerja. Aku seperti tersangka, ada
perempuan dengan dandanan sepertimu mengunjungi kedai kecil ini. Haha”
“Aku kan sudah sering datang
kesini.” Protesnya sambil tersipu malu.
“Kamu tahu? Lucunya lagi,
warna dress yang kamu pakai malam ini
persis dengan milik banci ulang tahun yang tadi masuk ke kedai ini. Haha.”
Aku menghentikan tawaku
melihat ekpresinya yang agak cemberut.
“Maaf. Bolehkah aku
menyelesaikan kalimat sulit ini sampai selesai?”
Aku menaikkan alis mata. Tanda
mempersilahkan.
“Bram.”
“Ada apa?”
“Aku menyukaimu, Abram.”
Lanjutnya.
Beberapa detik suasana sunyi. Seakan
semua orang yang ada di dalam kedai menghilang. Menyisakan aku dan dia saja.
“Aku suka padamu.” Dia bermaksut
mempertegas kata suka pada kalimatnya. Seperti barusan aku tidak mendengar.
Waktu menjadi sunyi lagi, kali
ini bermenit-menit. Gerimis terlihat di luar, semakin lama semakin deras. Aku
berdehem, kemudian menghela nafas panjang. Orang-orang di dalam kedai sudah
mulai terlihat. Aku mengatur nafas sebelum mulai bicara.
“Kamu bisa lihat. Aku hanyalah
laki-laki yang tidak punya apa-apa. Orangtuaku meninggal karena kecelakaan 18
tahun yang lalu. Karena Geo sangat peduli padaku, Ayahnya mencarikan sebuah
kontrakan dan membayar setiap tagihannya sampai aku bisa membayarnya sendiri.
Tidak hanya itu, orangtua Geo bahkan menyekolahkanku sampai SMP, dan ibunya
sering membawakan makan. Aku bersyukur. Dia menerimaku sebagai sahabatnya
dengan apa adanya.”
Gadis bernama Dinda di depanku
terdiam. Memasang wajah serius untuk menyimak cerita perjalanan hidupku.
Wajahnya menunjukkan empati. Bibirnya mulai bergerak, tanda akan mengucapkan
sesuatu.
“Aku bicara seperti ini bukan
karena aku merasa tak pantas untukmu. Aku hanya bercerita tentang kebaikan Geo
dan keluarganya. Dan bukan karena aku mengalah pada Geo atas kebaikannya
sehingga menolakmu.”
Aku menghentikan perkataanku
yang sepertinya sudah berlebihan.
“Kenapa kamu berkata demikian?
Kamu bukan Abram yang biasanya. Aku tahu kamu menyayangiku.”
“Ini aku. Dan maaf. Wanita
sepertimu benar-benar bukan tipeku.”
Kutatap lamat-lamat matanya
yang memerah, beberapa detik kemudian menjatuhkan beberapa tetes air mata. Dia
segera menoleh kea rah jendela. Beberapa kali jemarinya menghapus air mata yang
mengalir di pipinya.
Dia berbalik pandangan ke
arahku lagi.
“Jika kamu ingin menolakku. Setidaknya
berlembut hatilah dan katakan kata-kata yang manis untuk mengakhiri kalimatmu
itu!” Katanya terlihat menggunakan seluruh tenaganya. Otot keluar dari kulit
lehernya yang terlihat.
Aku diam, berusaha mencerna
keluhannya.
Dinda berdiri, kursi yang
didudukinya terseret ke belakang oleh tekanan kakinya. Aura kemarahan tiba-tiba
muncul di pertemuan kami.
“Ya. Benar katamu. Geo orang
baik, dia lebih baik darimu. Waktu dekat ini, kupastikan dia akan datang ke
rumahku. Jika kamu benar-benar akrab dengan keluarganya, artinya kamu pasti
datang kan?”
Dia langsung berlari menuju
pintu keluar. Suara lonceng seharusnya berbunyi nyaring, tapi kali ini
terdengar samar karena hujan sangat deras,.
Sampai di depan kedai dia
berbalik dan menemukanku mengikutinya. Tanpa berkata apapun dia melepas jaket milikku. Diarahkannya jaket itu ke wajahku. Aku
menerimanya.
Langkah kaki, beserta
dandanannya yang cantik malam ini dengan sengaja menerjang derasnya hujan.
Semoga hujan ini tidak membuatnya sakit keesokan harinya.
Aku hanya punya satu pesan
untuknya yang tidak bisa aku ungkapkan.
Dinda,
kamu menantangku. Menantang orang yang tak punya harapan pada seorang wanita
sepertimu.
Komentar
Posting Komentar