Langsung ke konten utama

Chapter 1 (Melepas Matahari)




“Kling.. kling.”
Suara lonceng berbunyi diikuti ketepak sepatu heels terdengar masuk membuka pintu dari luar. Suara tawa segerombolan pemuda yang ada di dalam kedai saling beradu tangan tanda tos, seakan misi mereka berhasil. Kuhitung ada lima orang. Pandanganku lekas memutari seluruh isi kedai, bahkan sampai ke sudut-sudutnya. Beberapa pelanggan ikut tertawa. Tak jarang hanya menengok sebentar, menggeleng kepala kemudian sibuk melanjutkan makan, maupun mengobrol dengan temannya sebelum pesanan datang.
Yah, barusan itu ada seorang laki-laki didandani menyerupai wanita. Dia mengenakan dress seksi berwana merah muda, heels berwana merah darah, wig berambut lurus panjang, dan make up yang tebal. Bukan cantik, bahkan lebih tepat seperti penampakan hantu di senja hari. Dia hanya masuk sebentar, kemudian keluar dari kedai menabrak pintu yang terbuat dari bahan kaca setelah mendapat sambutan tawa.
Aku menggelengkan kepala sambil mengambil piring dan gelas bekas pelanggan sebelumnya, kemudian mengelap meja agar bisa ditempati pelanggan baru.
 “Kling.. Kling..”
Suara lonceng berbunyi kembali dan beberapa suara langkah sepatu terdengar  dari luar kedai.
“Selamat datang di Kedai Yummy.”
Sapaku sambil menundukkan pandangan ke pelanggan yang datang.
Kulihat segerombolan pemuda tadi juga melangkah keluar dari kedai. Membuat lonceng di tengah pintu berkali-kali berbunyi.
Setelah menaruh gelas dan piring didapur, aku menuju pintu. Keadaannya sedikit kotor karena adegan wanita jadi-jadian tadi menabrak dan mengotori pintu kaca kami dengan make up yang dikenakannya. Dari pintu kaca yang kubersihkan terlihat segerombolan pemuda tadi menghampiri laki-laki yang didandani beserta temannya yang lain sedang bersamanya dan mereka tertawa riang. Beberapa waktu kemudian kue berlilin muncul dari dalam mobil dibawakan oleh dua perempuan berseragam OSIS sekolah menengah atas dengan beberapa balon berwarna hitam dan putih. Aku tersenyum tipis. Ikut merasakan kentalnya persahabatan mereka.
Alarm azan magrib terdengar berkumandang dari ponsel. Segera aku mengambilnya di saku celana dan mematikannya.
Langkahku berjalan ke dapur, mengembangkan senyum kepada setiap pelanggan yang datang. Melihat-lihat ekspresi mereka yang duduk bersama pasangannya, ataupun sekedar dengan para sahabatnya.
Belakangan ini langit sering memasang wajah sendu. Bahkan hari ini, beberapa kali cahaya kilat terlihat dari pintu kaca yang tadi kubersihkan. Musim penghujan membuat kedai ini semakin ramai. Tidak tahu apakah karena para pekerja pabrik sebelah tidak ada pilihan lain untuk makan, atau musim hujan cocok jika makan seafood. Apalagi gulai kepala ikan yang uapnya masih berlarian. Membayangkannya saja membuatku ingin memakannya.
“Kau ingin buka puasa pakai apa?”
Suara seseorang terdengar setelah aku sampai dapur.
“Aku bawa bekal.”
Jawabku sambil menlepas celemek berwarna hitam – baju dinas kami di kedai.
Lekas tanganku membuka tas dan mengambil kotak makan yang dibawakan orang rumah. Tak sabarnya aku, langsung kubuka kotak makan berwarna kuning itu. Nasi goreng dengan telur yang dilebur bersamaan saat proses memasaknya. Ada saus berbentuk senyum dengan hiasan tomat dan beberapa sayuran timun, tomat, juga selada. Makanan yang dibuat dengan kasih sayang. Rasa pedasnya pasti pas. Dia tahu aku tak begitu suka masakan pedas.
“Hanya bentuk senyum?” Ledek Roy sambil menyelidik isi dalam tepak makan dari belakang punggungku.
Dia adalah seorang koki pondok makan tempatku bekerja. Entah kenapa, setiap koki yang aku kenal memiliki tubuh yang gemuk. Bedanya kalau Roy ini memiliki kulit bersih dan bertubuh tinggi. Parasnya lumayan dan masih jomblo. Aku suka mengerjainya. Kubilang jangan terlalu banyak makan masakan sendiri agar tidak obesitas. Dia tidak marah. Dia tahu karakterku.
“Besok lagi. Akan kusuruh dia membuat bentuk love!”
Aku berjalan ke bangku panjang pojok dapur. Senyumku masih mengembang sebelum benar-benar duduk. Kusantap hidangan buka puasa hari ini dengan lahap. Saat suapan terakhir, salah satu teman kerjaku mendekati telinga dan berbisik. Aku menahan rasa terkejut dengan apa yang dia katakan. Aku langsung ke washtafle. Mencuci tepak makan.
“Kau tak dengar? Ada yang mencari kau di luar sana.” Ucap Roy sambil mengangkat beberapa kali wajan yang dibawa tangannya, hingga api dari kompor yang melahap wajan mati.
“Aku tahu. Aku mau shalat dulu. Suruh saja dia masuk.” Ucapku tanpa menoleh.
“Okelah.” Balasnya sambil menempatkan masakan pada sebuah piring.
“Habis ini, kamu yang shalat, Roy.”
“Oke. Pak Ustadz.”
Sekarang giliran dia yang mengerjaiku.
“Aamiin.” Balasku.
***
Gadis berpostur ramping, kulitnya putih, rambut aslinya lurus, namun kali ini dibuat keriting menggantung di bagian bawah. Dress selutut berlengan pendek berwarna merah muda, dengan handbag hitam dan highheels yang berwarna krem. Hidung mancung, bibir tipis, dan mata yang berbinar. Semua ditata dengan riasan yang natural. Para karyawan dan orang yang lalu lalang keluar masuk kedai Yummy memandanginya takjub.
Dia tersenyum melihatku berjalan menghampirinya. Gigi rapi yang ditampakkannya tambah membuatnya semakin cantik. Dia begitu keras kepala. Tidak mau masuk kalau tidak dijemput.
Mendung membawa angin bertiup lumayan kencang. Aku melepas jaket hodyku. Sampai di depannya, kukalungkan ke tubuhnya.
“Bram.”
“Masuk dulu ya?” Potongku. Dia mengangguk.
Aku berjalan duluan, dia mengikuti di belakang. Kami menuju bangku kosong di pinggir jendela kaca.
“Bram. Untuk pertama kalinya aku akan mengatakan ini pada seseorang.” Ucapnya sambil menyatukan kedua jemarinya di atas meja. Terkesan gugup.
Dia memang sepertinya sudah tidak sabar. Masih beberapa detik aku mempersilahkannya duduk di, tapi raut wajahnya sudah menggebu.
“Tidak usah tergesa-gesa. Kamu ingin minum apa? Jahe susu? Biar hangat.”
Kuberi tawaran setelah kami berdua benar-benar sudah duduk.
“Tidak.” Balasnya singkat melepaskan pertalian antar jemarinya dan berganti membetulkan bentuk roknya, seakan tidak nyaman ketika duduk.
“Kamu tahu? Untuk pertama kalinya ada gadis cantik menemuiku di tempat kerja. Aku seperti tersangka, ada perempuan dengan dandanan sepertimu mengunjungi kedai kecil ini. Haha”
“Aku kan sudah sering datang kesini.” Protesnya sambil tersipu malu.
“Kamu tahu? Lucunya lagi, warna dress yang kamu pakai malam ini persis dengan milik banci ulang tahun yang tadi masuk ke kedai ini. Haha.”
Aku menghentikan tawaku melihat ekpresinya yang agak cemberut.
“Maaf. Bolehkah aku menyelesaikan kalimat sulit ini sampai selesai?”
Aku menaikkan alis mata. Tanda mempersilahkan.
“Bram.”
“Ada apa?”
“Aku menyukaimu, Abram.” Lanjutnya.
Beberapa detik suasana sunyi. Seakan semua orang yang ada di dalam kedai menghilang. Menyisakan aku dan dia saja.
“Aku suka padamu.” Dia bermaksut mempertegas kata suka pada kalimatnya. Seperti barusan aku tidak mendengar.
Waktu menjadi sunyi lagi, kali ini bermenit-menit. Gerimis terlihat di luar, semakin lama semakin deras. Aku berdehem, kemudian menghela nafas panjang. Orang-orang di dalam kedai sudah mulai terlihat. Aku mengatur nafas sebelum mulai bicara.
“Kamu bisa lihat. Aku hanyalah laki-laki yang tidak punya apa-apa. Orangtuaku meninggal karena kecelakaan 18 tahun yang lalu. Karena Geo sangat peduli padaku, Ayahnya mencarikan sebuah kontrakan dan membayar setiap tagihannya sampai aku bisa membayarnya sendiri. Tidak hanya itu, orangtua Geo bahkan menyekolahkanku sampai SMP, dan ibunya sering membawakan makan. Aku bersyukur. Dia menerimaku sebagai sahabatnya dengan apa adanya.”
Gadis bernama Dinda di depanku terdiam. Memasang wajah serius untuk menyimak cerita perjalanan hidupku. Wajahnya menunjukkan empati. Bibirnya mulai bergerak, tanda akan mengucapkan sesuatu.
“Aku bicara seperti ini bukan karena aku merasa tak pantas untukmu. Aku hanya bercerita tentang kebaikan Geo dan keluarganya. Dan bukan karena aku mengalah pada Geo atas kebaikannya sehingga menolakmu.”
Aku menghentikan perkataanku yang sepertinya sudah berlebihan.
“Kenapa kamu berkata demikian? Kamu bukan Abram yang biasanya. Aku tahu kamu menyayangiku.”
“Ini aku. Dan maaf. Wanita sepertimu benar-benar bukan tipeku.”
Kutatap lamat-lamat matanya yang memerah, beberapa detik kemudian menjatuhkan beberapa tetes air mata. Dia segera menoleh kea rah jendela. Beberapa kali jemarinya menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
Dia berbalik pandangan ke arahku lagi.
 “Jika kamu ingin menolakku. Setidaknya berlembut hatilah dan katakan kata-kata yang manis untuk mengakhiri kalimatmu itu!” Katanya terlihat menggunakan seluruh tenaganya. Otot keluar dari kulit lehernya yang terlihat.
Aku diam, berusaha mencerna keluhannya.
Dinda berdiri, kursi yang didudukinya terseret ke belakang oleh tekanan kakinya. Aura kemarahan tiba-tiba muncul di pertemuan kami.
“Ya. Benar katamu. Geo orang baik, dia lebih baik darimu. Waktu dekat ini, kupastikan dia akan datang ke rumahku. Jika kamu benar-benar akrab dengan keluarganya, artinya kamu pasti datang kan?”
Dia langsung berlari menuju pintu keluar. Suara lonceng seharusnya berbunyi nyaring, tapi kali ini terdengar samar karena hujan sangat deras,.
Sampai di depan kedai dia berbalik dan menemukanku mengikutinya. Tanpa berkata apapun dia melepas jaket  milikku. Diarahkannya jaket itu ke wajahku. Aku menerimanya.
Langkah kaki, beserta dandanannya yang cantik malam ini dengan sengaja menerjang derasnya hujan. Semoga hujan ini tidak membuatnya sakit keesokan harinya.
Aku hanya punya satu pesan untuknya yang tidak bisa aku ungkapkan.
Dinda, kamu menantangku. Menantang orang yang tak punya harapan pada seorang wanita sepertimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MELEPAS (cerpen)

            “Aku seneng banget kamu bisa mengagumiku. Aku menyerahkan semua pada Allah. Apa kamu juga?” Sebuah pesan yang terbaca dari ponselku. Ditulis oleh seseorang yang kukenal hampir satu tahun belakangan ini. Seseorang yang bahkan tidak pernah lagi aku bertemu dengannya. Dia yang populer, rasanya tak pantas jika seorang perempuan sepertiku berada bersamanya. *** Langkahku terayun menuju sebuah ballroom hotel. Mengenakan gaun cantik dan handbag kutenteng elegan di tangan. Tak berpikir darimana aku mendapatkannya, acara apa yang sedang kuhadiri. Langkah demi langkah terayun. Seseorang menggenggam tanganku. “Aku kembali kesini. Kali ini bukan untuk menghadiri acara yang diadakan oleh organisasi yang kamu ikuti. Ini hanya karena aku ingin bertemu denganmu.” Pemuda itu menggenggam lebih erat. Tak ada reaksi apapun dariku, selain diam. Aku jadi teringat beberapa bulan yang lalu saat dia datang ke kampusku sebagai pes...

Ukuwah Islamiyah

Sore ini aku membuka buku catatan yang dahulu selalu kubawa setiap mengikuti majelis ta'lim. Betapa indahnya rangkaian kata dalam catatan itu seakan menerangi kembali hati ini. Bagai kondisi gelap kemudian lilin dinyalakan, seperti itulah ketika membukanya. Bukan karena tulisan tanganku yang bagus, bahkan jika dilihat mungkin hanya dapat dibaca oleh penulisnya saja.hehe Cahaya itu menyinari kembali, mengingatkan lagi. Karena begitulah ilmu, ketika sudah jarang dipelajari maka akan terlupakan. Dan tulisan dalam buku itu adalah pengingat dalam keluapaan ini. Kali ini saya ingin menuliskan sebuah bahasan yang kutemukan dalam bukuku, tepat tanggal 26 mei 2010 ketika kumencatatnya. semoga dapat bermanfaat. Sebelumnya, sebagai manusia kita benar-benar merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan senantiasa membutuhkan orang lain. Maka hendaklah saling menjaga dan menghargai haq sesama makhluk sehingga tidak adanya perilaku dzalim ataupun saling menyakiti. Dan dicatat...