Embun menjemputku dari panda yang setia menemaniku sedari malam.
Ia mengajakku untuk merambah dunia terang bersama matahari.
Ah sungguh, ini bagaikan rangkaian cerita yang ada dinovel itu.
Sungguh dibuat pandai menggunakan kiasan dan menteka-tekikan kata.
Padahal akupun tahu maknanya sangat sederhana.
Bahwa embun adalah ketika fajar mulai terbit, dan panda adalah lingkaran dimatamu yang tidak bisa kau pejamkan diwaktu malam.
Hidup bagaikan tak hidup, kalau hanya orang lain saja yang kau pikir.
Sediakan waktu untukmu berdua dengan Tuhan.
Munajatkan bagaimana kau mohon ampun atas kekakuan hati tersangkut pada manusia,
Berdoalah saat panda dan embunmu itu, dengan wudhu yang menyejukkan dan tilawah yang menentramkan.
Ah benar, masih saja kau menyimpan perasaan.
Lepaskan saja jangan dikandang. Biarkanlah terbang, hingga yang benar-benar setia datang sendiri dibibir sarang.
Tulisan dari sang penulis memang kadang kejam.
Dia menulis kegalauan yang mendoktrin hati.
Dia membuat kita membaca imajinasinya menyangkut dipikiran.
Tapi lebih kejam hati, ketika perasaannya hancur maka akan merugikan organ yang lain.
Semoga embun ini menghantarkan kalian pada jiwa dan raga yang lebih baik.
Membangkitkan semangat dan masa depan yang gemilang.
Terakhir, ingat bahwa Allah selalu bersama kita.
#PenulisNulis
Komentar
Posting Komentar