Langsung ke konten utama

PANDA DAN EMBUN

Embun menjemputku dari panda yang setia menemaniku sedari malam.
Ia mengajakku untuk merambah dunia terang bersama matahari.
Ah sungguh, ini bagaikan rangkaian cerita yang ada dinovel itu.
Sungguh dibuat pandai menggunakan kiasan dan menteka-tekikan kata.
Padahal akupun tahu maknanya sangat sederhana.
Bahwa embun adalah ketika fajar mulai terbit, dan panda adalah lingkaran dimatamu yang tidak bisa kau pejamkan diwaktu malam.


Hidup bagaikan tak hidup, kalau hanya orang lain saja yang kau pikir.
Sediakan waktu untukmu berdua dengan Tuhan.
Munajatkan bagaimana kau mohon ampun atas kekakuan hati tersangkut pada manusia,
Berdoalah saat panda dan embunmu itu, dengan wudhu yang menyejukkan dan tilawah yang menentramkan.


Ah benar, masih saja kau menyimpan perasaan.
Lepaskan saja jangan dikandang. Biarkanlah terbang, hingga yang benar-benar setia datang sendiri dibibir sarang.


Tulisan dari sang penulis memang kadang kejam.
Dia menulis kegalauan yang mendoktrin hati.
Dia membuat kita membaca imajinasinya menyangkut dipikiran.
Tapi lebih kejam hati, ketika perasaannya hancur maka akan merugikan organ yang lain.


Semoga embun ini menghantarkan kalian pada jiwa dan raga yang lebih baik.
Membangkitkan semangat dan masa depan yang gemilang. 
Terakhir, ingat bahwa Allah selalu bersama kita. 


#PenulisNulis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MELEPAS (cerpen)

            “Aku seneng banget kamu bisa mengagumiku. Aku menyerahkan semua pada Allah. Apa kamu juga?” Sebuah pesan yang terbaca dari ponselku. Ditulis oleh seseorang yang kukenal hampir satu tahun belakangan ini. Seseorang yang bahkan tidak pernah lagi aku bertemu dengannya. Dia yang populer, rasanya tak pantas jika seorang perempuan sepertiku berada bersamanya. *** Langkahku terayun menuju sebuah ballroom hotel. Mengenakan gaun cantik dan handbag kutenteng elegan di tangan. Tak berpikir darimana aku mendapatkannya, acara apa yang sedang kuhadiri. Langkah demi langkah terayun. Seseorang menggenggam tanganku. “Aku kembali kesini. Kali ini bukan untuk menghadiri acara yang diadakan oleh organisasi yang kamu ikuti. Ini hanya karena aku ingin bertemu denganmu.” Pemuda itu menggenggam lebih erat. Tak ada reaksi apapun dariku, selain diam. Aku jadi teringat beberapa bulan yang lalu saat dia datang ke kampusku sebagai pes...

Chapter 1 (Melepas Matahari)

“Kling.. kling.” Suara lonceng berbunyi diikuti ketepak sepatu heels terdengar masuk membuka pintu dari luar. Suara tawa segerombolan pemuda yang ada di dalam kedai saling beradu tangan tanda tos, seakan misi mereka berhasil. Kuhitung ada lima orang. Pandanganku lekas memutari seluruh isi kedai, bahkan sampai ke sudut-sudutnya. Beberapa pelanggan ikut tertawa. Tak jarang hanya menengok sebentar, menggeleng kepala kemudian sibuk melanjutkan makan, maupun mengobrol dengan temannya sebelum pesanan datang. Yah, barusan itu ada seorang laki-laki didandani menyerupai wanita. Dia mengenakan dress seksi berwana merah muda, heels berwana merah darah, wig berambut lurus panjang, dan make up yang tebal. Bukan cantik, bahkan lebih tepat seperti penampakan hantu di senja hari. Dia hanya masuk sebentar, kemudian keluar dari kedai menabrak pintu yang terbuat dari bahan kaca setelah mendapat sambutan tawa. Aku menggelengkan kepala sambil mengambil piring dan gelas bekas pelanggan sebelum...

Ukuwah Islamiyah

Sore ini aku membuka buku catatan yang dahulu selalu kubawa setiap mengikuti majelis ta'lim. Betapa indahnya rangkaian kata dalam catatan itu seakan menerangi kembali hati ini. Bagai kondisi gelap kemudian lilin dinyalakan, seperti itulah ketika membukanya. Bukan karena tulisan tanganku yang bagus, bahkan jika dilihat mungkin hanya dapat dibaca oleh penulisnya saja.hehe Cahaya itu menyinari kembali, mengingatkan lagi. Karena begitulah ilmu, ketika sudah jarang dipelajari maka akan terlupakan. Dan tulisan dalam buku itu adalah pengingat dalam keluapaan ini. Kali ini saya ingin menuliskan sebuah bahasan yang kutemukan dalam bukuku, tepat tanggal 26 mei 2010 ketika kumencatatnya. semoga dapat bermanfaat. Sebelumnya, sebagai manusia kita benar-benar merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan senantiasa membutuhkan orang lain. Maka hendaklah saling menjaga dan menghargai haq sesama makhluk sehingga tidak adanya perilaku dzalim ataupun saling menyakiti. Dan dicatat...