Langsung ke konten utama

BIFE (PART 1)


Sejarah Pertemu BIFE
Ngga tahu kenapa, terbesit nama itu untuk menyingkat ketiga nama kita. Namaku, era, dan abil sehingga terbentuk sebuah kata BIFE (aBIl, Fifa, Era). Terkesan alay, ya mungkin memang benar-benar alay. Masih teringat, saat kami menghadiri semacam diklat kewirausahaan yang diadakan UNSEC (Unnes Student Entrepreneurship Center) karena kami telah lolos dalam seleksi PMW (Program Mahasiswa Wirausaha).
Waktu itu, dalam sesi sejenis Pelatihan soft skill. Seorang pembicara bertanya tentang nama usaha kami dan produk yang akan kami jalankan dalam usaha. Abil tanpa beban bilang bife dan bicara alasan tentang pemilihan nama tersebut. Sontak seluruh audienspun tertawa. Sempat terdengar ada seorang peserta dibelakangku bilang, “namanya alay banget!”. Kamipun hanya tersenyum. Mau gimana lagi memang itulah nama team kami. Insyaallah udah paten. Namun ada hikmah kok dibalik itu semua. Produk kami terkenal disana. hehe

Mengapa sampai ada nama BIFE? Baik saya akan ceritakan sejarah terkumpulnya kami dalam sebuah team bernama Bife maupun kisah-kisah serta harapannya. Sebenarnya kami satu Universitas, satu fakultas, dan satu jurusan tapi beda prodi. Dan ada satu kesamaan lagi, Sama-sama anak pantura (Batang, pemalang, Tegal). hehe

Pertemuan Era dan Abil
Mereka sudah kenal sebelum menjadi seorang MABA di kampus kami tercinta (Universitas Negeri Semarang). Mereka kenal lewat jejaring sosial Facebook saat sama-sama mengurusi APMU (Awal Pertemuan Maba Unnes) menjadi koordinator daerah masing-masing. Mereka menjadi lebih akrab setelah kebetulan bertemu di stasiun poncol yang ternyata mereka satu kereta saat akan berangkat menuju UNNES untuk mengikuti PPA (Program Pengenalan Akademik). Dan saya baru tahu juga ternyata dulu abil adalah peserta terbaik waktu PPA angkatan maba kami. Wah selamat deh!

Pertemuan Abil dan Fifa
Kami sebenarnya sering bertemu karena satu fakultas, juga pernah satu rombel saat makul PAI. Namun kami tidak saling kenal. Baru saling mengenal semester 2, saat kami sama-sama tergabung menjadi panitia pada kepanitiaan KKL Terpadu jurusan Pendidikan Ekonomi dan jurusan Ekonomi Pembangunan angkatan 2011. Kami mulai akrab saat saya sering meminjam buku bacaan yang dia bawa saat rapat. Dan mengetahui bahwa ada salah satu temannya memiliki perpustakaan pribadi di kamar kosnya. Kebetulan sayapun mengenal, namanya yusuf. Dari sana kami sering membahas buku yang sudah pernah kami baca. 

Pertemuan Fifa dan Era
Meskipun se jurusan, saya dan era juga tidak saling mengenal. Kami pertama bertemu awal semester 3 saat mengikuti PAB (Penerimaan Anggota Baru) dalam sebuah organisasi kampus, yaitu UKM GERHANA (Gerakan Mahasiswa Anti Narkoba) dan menjadi sangat akrab setelah sama-sama menjadi pengurus dalam UKM tersebut. Hingga kamipun juga sama-sama menjadi sekretaris di DPM FE (Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Ekonomi).

Terkumpulnya abil, fifa, dan era
Seperti yang saya ceritakan tadi saya dan abil mulai akrab saat kami sering membaca buku milik yusuf dan mendiskusikannya. Bukunya tentang bisnis semua. Saat itu ada sebuah program PMW (Program Mahasiswa Wirausaha) yang diadakan oleh UNSEC. Kamipun berminat untuk mencoba mengikutinya, “hanya membaca dan memahami apa gunyanya tanpa action! Hehe” . Jadilah kami bertiga tergabung untuk membuat proposal bussines plan untuk diajukan ke UNSEC. Namun jalan tak semulus yang dibayangkan. Kami bertiga susah bertemu untuk membahasnya, dengan alasan sibuk dengan kuliah dan kegiatan organisasi masing-masing. Sempat disela-sela waktu kami bertemu untuk mendiskusikan proposal yang masih jadi 20% itu akan diselesaikan, dipending, atau tak usah sama sekali karena batas pengumpulan berkas segera berakhir. Setelah berdiskusi panjang kali lebar akhirnya kami putuskan maju terus! . 

(masih ada part 2)
— bersama Yusuf Anshori, Muh Hasri Sabila dan Merdiana Era Safitri.
Batal Suka · · Hentikan Pemberitahuan · Bagikan · Sunting

  • Nofifa Yanida

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MELEPAS (cerpen)

            “Aku seneng banget kamu bisa mengagumiku. Aku menyerahkan semua pada Allah. Apa kamu juga?” Sebuah pesan yang terbaca dari ponselku. Ditulis oleh seseorang yang kukenal hampir satu tahun belakangan ini. Seseorang yang bahkan tidak pernah lagi aku bertemu dengannya. Dia yang populer, rasanya tak pantas jika seorang perempuan sepertiku berada bersamanya. *** Langkahku terayun menuju sebuah ballroom hotel. Mengenakan gaun cantik dan handbag kutenteng elegan di tangan. Tak berpikir darimana aku mendapatkannya, acara apa yang sedang kuhadiri. Langkah demi langkah terayun. Seseorang menggenggam tanganku. “Aku kembali kesini. Kali ini bukan untuk menghadiri acara yang diadakan oleh organisasi yang kamu ikuti. Ini hanya karena aku ingin bertemu denganmu.” Pemuda itu menggenggam lebih erat. Tak ada reaksi apapun dariku, selain diam. Aku jadi teringat beberapa bulan yang lalu saat dia datang ke kampusku sebagai pes...

Chapter 1 (Melepas Matahari)

“Kling.. kling.” Suara lonceng berbunyi diikuti ketepak sepatu heels terdengar masuk membuka pintu dari luar. Suara tawa segerombolan pemuda yang ada di dalam kedai saling beradu tangan tanda tos, seakan misi mereka berhasil. Kuhitung ada lima orang. Pandanganku lekas memutari seluruh isi kedai, bahkan sampai ke sudut-sudutnya. Beberapa pelanggan ikut tertawa. Tak jarang hanya menengok sebentar, menggeleng kepala kemudian sibuk melanjutkan makan, maupun mengobrol dengan temannya sebelum pesanan datang. Yah, barusan itu ada seorang laki-laki didandani menyerupai wanita. Dia mengenakan dress seksi berwana merah muda, heels berwana merah darah, wig berambut lurus panjang, dan make up yang tebal. Bukan cantik, bahkan lebih tepat seperti penampakan hantu di senja hari. Dia hanya masuk sebentar, kemudian keluar dari kedai menabrak pintu yang terbuat dari bahan kaca setelah mendapat sambutan tawa. Aku menggelengkan kepala sambil mengambil piring dan gelas bekas pelanggan sebelum...

Ukuwah Islamiyah

Sore ini aku membuka buku catatan yang dahulu selalu kubawa setiap mengikuti majelis ta'lim. Betapa indahnya rangkaian kata dalam catatan itu seakan menerangi kembali hati ini. Bagai kondisi gelap kemudian lilin dinyalakan, seperti itulah ketika membukanya. Bukan karena tulisan tanganku yang bagus, bahkan jika dilihat mungkin hanya dapat dibaca oleh penulisnya saja.hehe Cahaya itu menyinari kembali, mengingatkan lagi. Karena begitulah ilmu, ketika sudah jarang dipelajari maka akan terlupakan. Dan tulisan dalam buku itu adalah pengingat dalam keluapaan ini. Kali ini saya ingin menuliskan sebuah bahasan yang kutemukan dalam bukuku, tepat tanggal 26 mei 2010 ketika kumencatatnya. semoga dapat bermanfaat. Sebelumnya, sebagai manusia kita benar-benar merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan senantiasa membutuhkan orang lain. Maka hendaklah saling menjaga dan menghargai haq sesama makhluk sehingga tidak adanya perilaku dzalim ataupun saling menyakiti. Dan dicatat...