Langsung ke konten utama

BIFE (PART 2)

PMW Oh PMW

Akhirnya proposal bussines plan kami jadi. Dalam pengerjaan kami bagi tiga, disatukan dan langsung dikumpulkan. Itupun tidak kami koreksi ulang dengan alasan “waktumu sudah habis”.

Pengumuman tahap 1
Proposal kami lolos administrasi dan diberi kesempatan untuk presentasi. Karena isi proposal belum sempat dikoreksi dan  dibahas lagi. Saat hari H pesentasi kami bangun dan berangkat pagi  sekali sampai belum sempat sarapan untuk merencanakan apa yang akan kami presentasikan dalam babak penyeleksian selanjutnya. Ternyata kami kelaparan sehingga mampir ke pasar tradisional “Krempyeng” untuk membeli nasi bungkus,  beberapa gorengan, dan air mineral. Kemudian makan bertiga di embung Unnes sambil foto-foto. Hehe (saya suka nih sesi foto-foto, mereka juga pasti).

Presentasi PMW
Jika saya ingat presentasi PMW ini saya masih terheran-heran dan selalu ingin tertawa. Kalian tahu kenapa? Gini ceritanya. Persiapan untuk PMW ini kami mengakui memang semrawut. Laptop mati, proposal ilang (jadi sebenarnya pas pagi-pagi kumpul itu ngg bahas PMW secara real. Cuma persiapan aja mau ngomong apa pas dihadapan juri). Tapi kami tetap semangat dan PeDe. Diruang presentasi , kami banyak bertemu dengan teman-teman yang sudah kami kenal. Saling bertanya antar team, produk yang ditawarkan, masalah dana yang diajukan, dan lain-lainpun terjadi.

Nomor berganti secara berurutan. Akhirnya nomer urut kami disebut dan waktunya berhadapan dengan juri. Pertama, kami diberi sebuah kertas untuk mengisi identitas dan dana yang diajukan, Rp. 8.000.000,- .Juri pun membaca dan bertanya, “benar ini 8 juta?”. Kamipun saling melihat, mengangguk dan bilang “iya” . Kemudian juri membuka proposal kami. Masih inget kata-kata beliau kurang lebih seperti ini, “ Anda menulis 8 juta, tapi disini, di proposal ini, di halaman 7, alenia pertama tertulis 1,6 juta. “ (sambil menekuk lembar halaman 7 dan ditunjukkan kepada kami untuk dibaca. Kami hanya tersenyum dan saling lirik. Bingung) . Akhirnya keluarlah jurus lobbying kami, hingga dana yang tadinya 8 juta, turun menjadi 3 juta untuk diajukan. Lumayan kan daripada 1,6 juta. Tapi tak apa itu memang salah kami. Hehe

Pengumuman Tahap 2
Pengumuman tahap 2 dari UNSEC tiba. Sebenarnya saya pribadi tidak banyak berharap akan lolos tahap berikutnya. Secara melihat prosesnya saja sudah bikin  geleng-geleng. Hehe . Namun kenyataannya proposal kami diterima, kamipun senang. Tapi dengan catatan Cuma diberi dana sesuai yang ada di proposal yaitu 1,6 juta. Mengetahui hal tersebut kami bingung lagi “untuk apa modal segitu? Mau bisnis apa?” . Diskusipun dijadwalkan, kami berdiskusi panjang kali lebar lagi (diskusinya ngg Cuma tentang PMW juga sih sebenarnya :D ). Dalam diskusi itu kami membuat plan paln bisnis lain kalau memang dana yang cair hanya 1,6 juta. Dengan perubahan plan otomatis mengganti produk dan usaha, sekaligus mencari nama yang tepat. Kami mencari dan mengarang nama yang tepat untuk usaha kami, Disanalah tercetus nama BIFE.

(masih ada PART 3)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MELEPAS (cerpen)

            “Aku seneng banget kamu bisa mengagumiku. Aku menyerahkan semua pada Allah. Apa kamu juga?” Sebuah pesan yang terbaca dari ponselku. Ditulis oleh seseorang yang kukenal hampir satu tahun belakangan ini. Seseorang yang bahkan tidak pernah lagi aku bertemu dengannya. Dia yang populer, rasanya tak pantas jika seorang perempuan sepertiku berada bersamanya. *** Langkahku terayun menuju sebuah ballroom hotel. Mengenakan gaun cantik dan handbag kutenteng elegan di tangan. Tak berpikir darimana aku mendapatkannya, acara apa yang sedang kuhadiri. Langkah demi langkah terayun. Seseorang menggenggam tanganku. “Aku kembali kesini. Kali ini bukan untuk menghadiri acara yang diadakan oleh organisasi yang kamu ikuti. Ini hanya karena aku ingin bertemu denganmu.” Pemuda itu menggenggam lebih erat. Tak ada reaksi apapun dariku, selain diam. Aku jadi teringat beberapa bulan yang lalu saat dia datang ke kampusku sebagai pes...

Chapter 1 (Melepas Matahari)

“Kling.. kling.” Suara lonceng berbunyi diikuti ketepak sepatu heels terdengar masuk membuka pintu dari luar. Suara tawa segerombolan pemuda yang ada di dalam kedai saling beradu tangan tanda tos, seakan misi mereka berhasil. Kuhitung ada lima orang. Pandanganku lekas memutari seluruh isi kedai, bahkan sampai ke sudut-sudutnya. Beberapa pelanggan ikut tertawa. Tak jarang hanya menengok sebentar, menggeleng kepala kemudian sibuk melanjutkan makan, maupun mengobrol dengan temannya sebelum pesanan datang. Yah, barusan itu ada seorang laki-laki didandani menyerupai wanita. Dia mengenakan dress seksi berwana merah muda, heels berwana merah darah, wig berambut lurus panjang, dan make up yang tebal. Bukan cantik, bahkan lebih tepat seperti penampakan hantu di senja hari. Dia hanya masuk sebentar, kemudian keluar dari kedai menabrak pintu yang terbuat dari bahan kaca setelah mendapat sambutan tawa. Aku menggelengkan kepala sambil mengambil piring dan gelas bekas pelanggan sebelum...

Ukuwah Islamiyah

Sore ini aku membuka buku catatan yang dahulu selalu kubawa setiap mengikuti majelis ta'lim. Betapa indahnya rangkaian kata dalam catatan itu seakan menerangi kembali hati ini. Bagai kondisi gelap kemudian lilin dinyalakan, seperti itulah ketika membukanya. Bukan karena tulisan tanganku yang bagus, bahkan jika dilihat mungkin hanya dapat dibaca oleh penulisnya saja.hehe Cahaya itu menyinari kembali, mengingatkan lagi. Karena begitulah ilmu, ketika sudah jarang dipelajari maka akan terlupakan. Dan tulisan dalam buku itu adalah pengingat dalam keluapaan ini. Kali ini saya ingin menuliskan sebuah bahasan yang kutemukan dalam bukuku, tepat tanggal 26 mei 2010 ketika kumencatatnya. semoga dapat bermanfaat. Sebelumnya, sebagai manusia kita benar-benar merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan senantiasa membutuhkan orang lain. Maka hendaklah saling menjaga dan menghargai haq sesama makhluk sehingga tidak adanya perilaku dzalim ataupun saling menyakiti. Dan dicatat...