PMW Oh PMW
Akhirnya proposal bussines plan kami jadi. Dalam pengerjaan kami bagi tiga, disatukan dan langsung dikumpulkan. Itupun tidak kami koreksi ulang dengan alasan “waktumu sudah habis”.
Pengumuman tahap 1
Proposal kami lolos administrasi dan diberi kesempatan untuk presentasi. Karena isi proposal belum sempat dikoreksi dan dibahas lagi. Saat hari H pesentasi kami bangun dan berangkat pagi sekali sampai belum sempat sarapan untuk merencanakan apa yang akan kami presentasikan dalam babak penyeleksian selanjutnya. Ternyata kami kelaparan sehingga mampir ke pasar tradisional “Krempyeng” untuk membeli nasi bungkus, beberapa gorengan, dan air mineral. Kemudian makan bertiga di embung Unnes sambil foto-foto. Hehe (saya suka nih sesi foto-foto, mereka juga pasti).
Presentasi PMW
Jika saya ingat presentasi PMW ini saya masih terheran-heran dan selalu ingin tertawa. Kalian tahu kenapa? Gini ceritanya. Persiapan untuk PMW ini kami mengakui memang semrawut. Laptop mati, proposal ilang (jadi sebenarnya pas pagi-pagi kumpul itu ngg bahas PMW secara real. Cuma persiapan aja mau ngomong apa pas dihadapan juri). Tapi kami tetap semangat dan PeDe. Diruang presentasi , kami banyak bertemu dengan teman-teman yang sudah kami kenal. Saling bertanya antar team, produk yang ditawarkan, masalah dana yang diajukan, dan lain-lainpun terjadi.
Nomor berganti secara berurutan. Akhirnya nomer urut kami disebut dan waktunya berhadapan dengan juri. Pertama, kami diberi sebuah kertas untuk mengisi identitas dan dana yang diajukan, Rp. 8.000.000,- .Juri pun membaca dan bertanya, “benar ini 8 juta?”. Kamipun saling melihat, mengangguk dan bilang “iya” . Kemudian juri membuka proposal kami. Masih inget kata-kata beliau kurang lebih seperti ini, “ Anda menulis 8 juta, tapi disini, di proposal ini, di halaman 7, alenia pertama tertulis 1,6 juta. “ (sambil menekuk lembar halaman 7 dan ditunjukkan kepada kami untuk dibaca. Kami hanya tersenyum dan saling lirik. Bingung) . Akhirnya keluarlah jurus lobbying kami, hingga dana yang tadinya 8 juta, turun menjadi 3 juta untuk diajukan. Lumayan kan daripada 1,6 juta. Tapi tak apa itu memang salah kami. Hehe
Pengumuman Tahap 2
Pengumuman tahap 2 dari UNSEC tiba. Sebenarnya saya pribadi tidak banyak berharap akan lolos tahap berikutnya. Secara melihat prosesnya saja sudah bikin geleng-geleng. Hehe . Namun kenyataannya proposal kami diterima, kamipun senang. Tapi dengan catatan Cuma diberi dana sesuai yang ada di proposal yaitu 1,6 juta. Mengetahui hal tersebut kami bingung lagi “untuk apa modal segitu? Mau bisnis apa?” . Diskusipun dijadwalkan, kami berdiskusi panjang kali lebar lagi (diskusinya ngg Cuma tentang PMW juga sih sebenarnya :D ). Dalam diskusi itu kami membuat plan paln bisnis lain kalau memang dana yang cair hanya 1,6 juta. Dengan perubahan plan otomatis mengganti produk dan usaha, sekaligus mencari nama yang tepat. Kami mencari dan mengarang nama yang tepat untuk usaha kami, Disanalah tercetus nama BIFE.
(masih ada PART 3)
Akhirnya proposal bussines plan kami jadi. Dalam pengerjaan kami bagi tiga, disatukan dan langsung dikumpulkan. Itupun tidak kami koreksi ulang dengan alasan “waktumu sudah habis”.
Pengumuman tahap 1
Proposal kami lolos administrasi dan diberi kesempatan untuk presentasi. Karena isi proposal belum sempat dikoreksi dan dibahas lagi. Saat hari H pesentasi kami bangun dan berangkat pagi sekali sampai belum sempat sarapan untuk merencanakan apa yang akan kami presentasikan dalam babak penyeleksian selanjutnya. Ternyata kami kelaparan sehingga mampir ke pasar tradisional “Krempyeng” untuk membeli nasi bungkus, beberapa gorengan, dan air mineral. Kemudian makan bertiga di embung Unnes sambil foto-foto. Hehe (saya suka nih sesi foto-foto, mereka juga pasti).
Presentasi PMW
Jika saya ingat presentasi PMW ini saya masih terheran-heran dan selalu ingin tertawa. Kalian tahu kenapa? Gini ceritanya. Persiapan untuk PMW ini kami mengakui memang semrawut. Laptop mati, proposal ilang (jadi sebenarnya pas pagi-pagi kumpul itu ngg bahas PMW secara real. Cuma persiapan aja mau ngomong apa pas dihadapan juri). Tapi kami tetap semangat dan PeDe. Diruang presentasi , kami banyak bertemu dengan teman-teman yang sudah kami kenal. Saling bertanya antar team, produk yang ditawarkan, masalah dana yang diajukan, dan lain-lainpun terjadi.
Nomor berganti secara berurutan. Akhirnya nomer urut kami disebut dan waktunya berhadapan dengan juri. Pertama, kami diberi sebuah kertas untuk mengisi identitas dan dana yang diajukan, Rp. 8.000.000,- .Juri pun membaca dan bertanya, “benar ini 8 juta?”. Kamipun saling melihat, mengangguk dan bilang “iya” . Kemudian juri membuka proposal kami. Masih inget kata-kata beliau kurang lebih seperti ini, “ Anda menulis 8 juta, tapi disini, di proposal ini, di halaman 7, alenia pertama tertulis 1,6 juta. “ (sambil menekuk lembar halaman 7 dan ditunjukkan kepada kami untuk dibaca. Kami hanya tersenyum dan saling lirik. Bingung) . Akhirnya keluarlah jurus lobbying kami, hingga dana yang tadinya 8 juta, turun menjadi 3 juta untuk diajukan. Lumayan kan daripada 1,6 juta. Tapi tak apa itu memang salah kami. Hehe
Pengumuman Tahap 2
Pengumuman tahap 2 dari UNSEC tiba. Sebenarnya saya pribadi tidak banyak berharap akan lolos tahap berikutnya. Secara melihat prosesnya saja sudah bikin geleng-geleng. Hehe . Namun kenyataannya proposal kami diterima, kamipun senang. Tapi dengan catatan Cuma diberi dana sesuai yang ada di proposal yaitu 1,6 juta. Mengetahui hal tersebut kami bingung lagi “untuk apa modal segitu? Mau bisnis apa?” . Diskusipun dijadwalkan, kami berdiskusi panjang kali lebar lagi (diskusinya ngg Cuma tentang PMW juga sih sebenarnya :D ). Dalam diskusi itu kami membuat plan paln bisnis lain kalau memang dana yang cair hanya 1,6 juta. Dengan perubahan plan otomatis mengganti produk dan usaha, sekaligus mencari nama yang tepat. Kami mencari dan mengarang nama yang tepat untuk usaha kami, Disanalah tercetus nama BIFE.
(masih ada PART 3)
Komentar
Posting Komentar